Beranda > artikel > Bisnis Social Networking = Hoax?

Bisnis Social Networking = Hoax?

Social Networking baru-baru ini seakan menjadi tren bisnis. Di Indonesia beberapa bisnis social networking juga sudah diinisiasi seperti temanster, akucintasekolah, fupei walaupun semuanya mati, kalah dengan friendster dan facebook. Selain itu, dunia dikejutkan dengan perintis Facebook yang menjadi anak muda terkaya di Amerika baru-baru ini. 1,6% sahamnya dinilai 240juta USD oleh Microsoft. Itu berarti facebook bernilai sekitar 15miliar USD (150 triliun rupiah). Seolah-olah ini menjadi fakta yang semakin memantapkan kalau social networking menjadi bisnis masa depan. Tapi tunggu dulu, apakah ini benar? apakah nilai facebook sebesar itu pantas? Semoga tulisan ini memberikan sudut pandang lain.

Pendapatan terbesar yang diperoleh dari bisnis dotcom sebagian besar berasal dari iklan online. Model bisnis inilah yang juga menjadi andalan social networking seperti friendster, Myspace, dan facebook. Dengan model bisnis seperti itu pula Google bisa menghasilkan 16miliar USD (160 triliun rupiah) setiap tahunnya. Jumlah pengunjung unik google setiap bulan adalah sekitar 140juta. Ini sangat berbeda dengan MySpace dengan pengunjung unik setiap bulan 70juta tapi hanya mendapatkan pendapatan 100juta USD (1 triliun rupiah). Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin grafik dibawah ini bisa menjelaskan :

Pada grafik di atas terlihat pengeluaran iklan untuk social networking menurun relatif terhadap kenaikan pengeluaran iklan online secara keseluruhan. Analisa menarik dari para pakar yang bisa menjelaskan fenomena ini adalah celah dari social networking itu sendiri. Pernahkah anda menyadari jika anda menggunakan facebook atau friendster mata anda disibukkkan dengan aktivitas anda dengan teman-teman virtual anda, dengan komentar yang ada di wall anda, dll. Tingkat awareness pengguna social networking terhadap iklan sangat kecil. Data menyebutkan sekitar 0.04% pengunjung mengklik iklan online tersebut. Berbeda dengan google dengan tingkat klik 2% bahkan bisa lebih besar jika pengguna melakukan pencarian tertentu. Di google, orang memang sedang mencari informasi, bukan untuk bermaen-maen seperti di social networking. Ini menjadikan perusahaan-perusahaan malas untuk beriklan di situs social networking. Saya rasa model bisnis social networking perlu dikembangkan sehingga tidak hanya iklan saja. Bisa jadi transaksi online seperti ebay (sepertinya facebook rada condong kesana).

Sumber :

Catatan Achmad Zaky Syaifudin

Technorati Tags: , ,

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: